Kalau mau jujur, tidak perlu kita mempertanyakan kesiapan menyambut AFTA, siap atau tidak siap kita pasti akan menghadapi era perdagangan bebas.
namun apabila kita melihat dengan telanjang dilapangan maka jawabannya adalah : Indonesia tidak siap !!!, mengapa ? karena Indonesia belum memiliki modal yang menjanjikan agar cukup dikatakan "siap". Indonesia masih banyak PR yang belum diselesaikan.
Pembenahan SDM
Meski AFTA 2015, merupakan ‘buah simalakama’ yang
dipaksakan/dijejalkan ke dalam mulut seluruh rakyat Indonesia dari
Sabang sampai Merauke untuk dimakan. Mau tidak makan juga mati, mau
makan juga mati. Siap tidak siap harus siap. Bagaimana caranya untuk
siap, ketika AFTA 2015, sepertinya masih berupa sebuah euforia bagi
pemerintah, baik Pemda dan pusat yang saat ini sepertinya masih tidur
pulas dan kurang tanggap untuk mempersiapkan masyarakatnya agar menjadi
lebih siap dalam berbagai aspek untuk menghadapi semua tantangan ini
untuk dijadikan peluang menjadi lebih sejahtera dan bermartabat di
pentas Asia?
Diwaktu yang semakin sempit ini, ada banyak hal penting yang bisa
membuat Indonesia bisa bertahan, atau bahkan bisa memanfaatkan AFTA 2015
untuk kemajuan bangsa ini. Tentunya dengan harapan pemerintah memahami
prioritas masalah yang harus diselesaikan dan kekurangan yang perlu
ditingkatkan. Nah, prioritas pemerintah saat ini maupun pemerintah yang
terpilih pasca pilpres 9 Juli 2014 nanti, yaitu memfokuskan perhatian
dalam pembenahan SDM melalui perbaikan pendidikan di Indonesia yang
harus mendukung daya saing dan dayaguna agar lulusan yang dihasilkan
bisa bekerja dan bersaing di perusahaan atau industri tidak hanya di
Indonesia tetapi juga negara lain.
Oleh karena itu, dalam rangka meningkatkan kompetensi, pola pikir
adalah aspek penting yang perlu diperhatikan. Pola pikir tenaga kerja
maupun calon tenaga kerja harus mulai disesuaikan dengan tren abad
ke-21, antara lain: pembelajaran yang mendorong manusia untuk mencari
tahu dari berbagai sumber observasi; pembelajaran yang diarahkan untuk
mampu merumuskan masalah, bukan hanya menjawab masalah; pembelajaran
yang diarahkan untuk melatih berfikir analitis dan bukan berfikir
mekanistis, serta pembelajaran yang menekankan pentingnya kerjasama dan
kolaborasi dalam menyelesaikan masalah. Hal ini harus sudah mulai
dibentuk sejak memasuki dunia pendidikan tingkat tinggi seperti SMA dan
PerguruanTinggi.
Yang kedua, masalah Usaha Kecil Menengah (UKM) yang kalah saing
dengan industri dari luar negeri maupun dari dalam negeri. Ini membuat
para pelaku UKM di Indonesia merasa terancam. Maka dalam hal ini,
pemerintah harus turun tangan membantu. Pemerintah bisa membantu dengan
bekerja sama dengan pihak perbankan untuk memberikan kredit usaha bagi
pengusaha UKM. Yang terakhir, Pemerintah harus menerapkan aturan agar
kepentingan warga dan kepentingan dari luar negeri tidak bersinggungan
yang menyebabkan terjadinya masalah atau benturan di kemudian hari.
Akhirnya, penerapan perdagangan bebas di kawasan Asia Tenggara mulai
2015, sudah didepan mata. Siap ataupun tidak, kita tak bisa lari dari
kenyataan.
Maka di waktu yang semakin sempit ini, marilah bekerja keras
menyiapkan diri untuk menjadi pemenang dalam percaturan di kawasan Asia
Tenggara.***
sumber: Drs. Riduan Siagian, SH,MH, MM adalah Dosen STIE Bisnis Indonesia dan GM Godrej
Tidak ada komentar:
Posting Komentar